Harga CPO 2008 capai US$900/ton Bisnis-Indonesia, 9 November 2007 NUSA DUA, Bali: Harga minyak sawit mentah (CPO) pada 2008 masih akan bergantung pada harga minyak mentah, dan diperkirakan rata-rata harga akan berada di level US$900 per ton. Sementara itu, harga tandan buah segar diperkirakan mencapai Rp1.600 per kilogram atau rata-rata Rp1.450 per kilogram. Ketua Harian Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengatakan saat ini ada upaya dari sejumlah pemimpin dunia untuk menurunkan harga minyak mentah. “Tapi upaya itu butuh waktu. Apabila berhasil, maka harga CPO [crude palm oil] akan turun. Selama proses itu, harga rata-rata akan berpijak pada angka US$900 per ton. Itu harga CIF Rotterdam,” ujarnya saat menyampaikan makalahnya di hari kedua Indonesian Palm Oil Conference and Price Outlook 2008, kemarin. Harga 2008 diperkirakan membaik atau pada kisaran itu lantaran permintaan dari China dan India, konsumen terbesar CPO di dunia, terus bertambah. Sementara itu, Executive Director The Solvent Extrator’s Association dari Primer Association of Vegetable Oil Industry & Trade in India, B. V. Mehta, mengatakan permintaan untuk konsumsi minyak goreng diperkirakan lebih cepat dari produksi lokal. Dia memperkirakan permintaan minyak sayur-sayuran itu mencapai 700.000 ton, sementara produksi lokal 350.000 ton. “Itu artinya India masih harus mengimpor. Namun, komposisi impor tentu saja akan bergantung pada harga berbagai macam minyak di pasar dunia dan logistik impor.” Dia menjelaskan pada periode November 2006-September 2007, India mengimpor 4,21 juta ton berbagai minyak, yang 2,27 juta ton adalah dari grup minyak sawit dan 1,44 juta soft oil. Volume impor memperlihatkan pertumbuhan 11% atau sama dengan periode yang sama tahun lalu. Selama Oktober 2007, sebanyak 500.000-550.000 ton impor komoditas itu tiba di India. Itu artinya total impor minyak goreng (dari edible grade) akan menjadi 4,7 juta-4,8 juta ton untuk impor tahun ini yang jatuh pada Oktober 2007. “Tahun lalu, angkanya hanya 4,4 juta ton,” ujarnya. Sementara itu Group Chief Executive Golden Hope Plantation Berhad, Sabri Ahmad mengatakan ke depan industri minyak sawit harus tetap mengacu kepada permintaan. Kemudian, industri sawit harus bersama-sama mengamankan aktivitasnya dengan membangun dan mengalokasikan sumber daya guna mengamankan perusahaan dengan menyesuaikan pada permintaan secara bertanggung jawab. Perusahaan, kata dia, tidak lagi berpikir bagaimana memperbesar nilai saham pemegang saham, tapi bagaimana melayani kebutuhan masyarakat. “Jangan hanya berpikir produksi. Tapi berpikir agar bagaimana berarti bagi kehidupan manusia,” tutur Ahmad. Oleh Martin Sihombing Bisnis Indonesia bisnis.com