IMF: Subsidi BBM bebani anggaran
Bisnis-Indonesia, 12 November 2007
JAKARTA: Kenaikan harga minyak dunia yang kian mendekati level US$100 per barel dinilai sebagian analis dapat membahayakan anggaran pendapatan dan belanja negara. Kekhawatiran itu didasarkan asumsi dasar APBN 2008 hanya dipatok US$60 per barel, sementara faktanya harga minyak internasional kini mencapai US$96 per barel.
Selain harga minyak, asumsi produksi minyak juga dianggap berisiko tidak memenuhi target. Untuk mengetahui seberapa besar dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN dan langkah apa yang perlu diantisipasi pemerintah, Bisnis mewawancarai Stephen B. Schwartz, Kepala Perwakilan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk Indonesia, di Jimbaran, Bali, pekan lalu.
Bagaimana dampak lonjakan harga minyak terhadap anggaran RI?
Pemerintah sekarang ini tengah melihat dampaknya. Sejauh ini, kenaikan harga minyak masih dapat dikendalikan. Indonesia sebenarnya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak sebagai negara eksportir energi. Akan tetapi, di sisi lain, karena adanya subsidi, lonjakan harga minyak mungkin bisa memberikan dampak negatif terhadap fiskal. Ekses itu terutama tekanan terhadap inflasi karena kenaikan harga minyak, seperti juga yang terjadi di negara lain.
Sampai saat ini memang belum terlihat, tetapi kondisi itu bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan pengeluaran konsumen. Dampak ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dengan mitra dagangnya.
Untuk Indonesia, sulit menilai apakah lonjakan ini menguntungkan atau tidak, karena kedua sisi tadi. Hal yang menguntungkan neraca pembayaran di pos pendapatan adalah Indonesia sebagai produsen energi, seperti minyak dan gas. Namun efek lainnya, Indonesia juga merupakan konsumen minyak. Nah, pemerintah harus melihat dua sisi ini secara hati-hati ke depan. Apakah harga minyak saat ini terus berlanjut atau tidak.
Pengaruh terhadap defisit anggaran?
Saya kira pemerintah sedang menghitung dampak negatif dan positif, seperti yang saya sebut tadi. Kalau harga minyak naik, pendapatan akan meningkat tapi persoalannya masih ada unsur subsidi yang membengkak. Faktor-faktor ini yang memengaruhi defisit. Ini perhitungan kompleks untuk menentukan faktor yang dominan. Faktor ini yang saya pikir tengah dihitung. Namun, sejauh ini dampaknya masih dapat dikendalikan. Namun, kalau kenaikannya bertahan dalam jangka waktu yang lama, diperlukan analisis yang sangat hati-hati.
Bappenas berniat batasi konsumsi minyak bersubsidi. Tanggapan Anda?
Oh ya, saya tahu rencana ini dari surat kabar. Tetapi, belum ada diskusi sama sekali dengan Bappenas. Apa dan bagaimana maksud dari rencana ini sebenarnya. Akan tetapi paling tidak, gagasan tersebut menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga minyak terhadap potensi subsidi masih ada pada 2007.
Ketika harga minyak internasional meningkat, biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk minyak bersubsidi juga bertambah. Jadi, masalah subsidi minyak masih menjadi isu. Mungkin di masa mendatang, pemerintah harus memikirkan bagaimana caranya agar subsidi ini tidak lagi menjadi persoalan bila terjadi kenaikan harga minyak dunia.
Pembatasan itu efektif?
Saya tidak mengetahui detail dari kebijakan untuk membatasi konsumsi minyak bersubsidi. Saya tidak punya komentar soal rencana itu. Namun, saya pikir, pemerintah punya perhitungan sendiri karena kalkulasi ini memang tidak mudah.
Pewawancara: Aprilian Hermawan Bisnis Indonesia