Tekanan Ekonomi Berat
Seputar-Indonesia, 30 Januari 2008
JAKARTA (SINDO)— Ikatan Bankir Indonesia (IBI) menilai tekanan ekonomi pada 2008 berat.Karena itu,mereka meminta otoritas fokus mengendalikan inflasi.
”Laju inflasi jika tidak ditekan bisa menyentuh angka 6 plus minus 1% atau di atas target pemerintah sebesar 5 plus minus 1%,” ujar Ketua Umum IBI Agus Martowardojo saat membuka seminar bertajuk ”Peluang dan Tantangan Perekonomian Indonesia” di Jakarta kemarin. Dia mengatakan, untuk mengantisipasi terjadinya dampak yang lebih luas, dari sisi moneter BI perlu menahan laju penurunan suku bunga. Dari sisi fiskal, pemerintah harus menjamin ketersediaan suplai bahan makanan.
Kemudian, menurutnya, bagi industri keuangan, integrasi sistem keuangan global menjadi tantangan tersendiri bagi institusi keuangan nasional. ”Namun, sebagai pelaku perbankan,kita harus terus berusaha menemukan peluang bisnis yang baik tahun ini,”tegas dia. Dalam kesempatan itu, Agus merekomendasikan penggunaan kembali Jakarta Interbank Overningt Rate (Jibor) terkait kebijakan BI untuk memperdalam instrumen moneter nasional.Mekanisme Jibor menjadi yang paling tepat untuk menawarkan tingkat suku bunga pinjaman bank. ”SBI yang dilelang BI setiap Rabu bukan mencerminkan posisi perbankan untuk menyiapkan interest rate-nya. Jadi sebenarnya ada banyak kebutuhan yang belum terpenuhi saat ini sehingga sudah tidak tepat menggunakan SBI Rate,”papar dia.
Dia menuturkan, Jibor lebih mencerminkan kondisi komersial seluruh bank. Jibor juga mencerminkan tingkat suku bunga yang berlaku di pasar. Sementara itu Senior Vice President dari Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan mengatakan, pemerintah perlu segera mengeluarkan stimulus fiskal untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pemerintah harus merealisasi berbagai program infrastruktur. Di tempat terpisah,Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu mengatakan, pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario untuk menghadapi perubahan ekonomi dalam negeri dan global.
Para menteri juga membahas posisi APBN setiap bulan guna menjaga stabilitas perekonomian. ”Yang kita persiapkan adalah beberapa macam skenario simulasi terhadap berbagai external shock maupun internal perubahan pada APBN,”papar Anggito seusai bertemu Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla di Istana Wapres,Jakarta kemarin. Meski demikian, dia mengakui kondisi perekonomian saat ini sudah lebih baik dibandingkan pekan lalu.Pasar modal global telah menguat kembali.Sementara harga minyak mentah dunia sudah di bawah level USD90- an per barel. ”Itu satu tingkat yang cukup amanlah untuk APBN kita,”jelasnya. Mengenai asumsi harga minyak mentah dunia di dalam APBN, Anggito mengungkapkan hal tersebut belum diputuskan.
Menurut dia, asumsi harga minyak ini akan diumumkan setelah sidang kabinet paripurna.Meski demikian,beredar isu bahwa pemerintah akan menetapkan asumsi harga minyak mentah dunia dengan kisaran USD80–85 per barel. ”Nanti akan diumumkan sepaket,”imbuhnya. Anggito enggan mengomentari kemungkinan penurunantargetpenerimaanpajak. Dia hanya mengatakan, berbagai perubahan akan tergambar dalam APBN-P nanti. ”Jadi kita akan reviu seluruh dampak dari insentif maupun fasilitas-fasilitas yang diberikan,”terang Anggito. (tomi sujatmiko/maya sofia)