AS Menyeret Ekonomi Global
Kompas, 31 Januari 2008
WASHINGTON, Selasa – Dana Moneter Internasional atau IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2008 menjadi 4,1 persen dari perkiraan sebelumnya 4,4 persen. Ini adalah kinerja ekonomi global terburuk dalam lima tahun terakhir, yang dipicu kelesuan ekonomi AS sepanjang 2008.
Perekonomian AS sendiri diperkirakan hanya tumbuh 1,5 persen, yang sebelumnya diperkirakan tumbuh 1,9 persen. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 2,2 persen pada 2007.
PDB dunia pada 2006 sekitar 46,66 triliun dollar AS, sementara PDB AS sekitar 13 triliun dollar AS. IMF menyatakan, tak ada negara yang bisa luput dari penurunan pertumbuhan AS, yang dipicu krisis perumahan di AS. Setidaknya ada 1 triliun dollar AS pinjaman ke sektor perumahan yang sedang bermasalah di AS.
Persoalan di sektor perumahan AS, yang dialami berbagai perbankan internasional yang turut mengucurkan pinjaman ke perumahan di AS, telah membuat sistem perbankan lebih menahan diri dalam pengucuran kredit. Sikap bank yang menahan diri justru makin memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
”Ini adalah penurunan pertumbuhan yang signifikan dan tak diragukan lagi pasti terjadi,” kata Simon Johnson, ekonom senior IMF di Washington, Selasa (29/1).
Pertumbuhan ekonomi 2008 itu adalah yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2003, PDB dunia tumbuh 3,6 persen. Pertumbuhan PDB dunia tertinggi dalam lima tahun terakhir tercatat 5,1 persen pada 2004. Pada tahun 2007, PDB dunia tumbuh 4,9 persen.
China masih tumbuh
Meski demikian, sejumlah negara berkembang seperti Rusia, India, dan China masih tetap tumbuh. PDB China masih tumbuh 10 persen. Hal ini agak menolong agar ekonomi dunia tak terlalu anjlok lebih dalam.
Namun, secara rata-rata, ekonomi global tetap turun. ”Kendala yang muncul dari sektor keuangan AS, dipicu krisis perumahan …, makin terasa. Anjloknya indeks di bursa saham akibat aksi jual juga meningkatkan kepastian,” demikian IMF.
Pihak yang akan menjadi korban adalah negara-negara yang paling banyak berkaitan dengan ekonomi AS. Uni Eropa, mitra dagang terbesar AS, akan merasakan dampak terbesar. Perdagangan trans-Atlantik masih tergolong yang terbesar di dunia.
Karena itu, IMF pun menurunkan proyek pertumbuhan ekonomi zona euro (15 negara dari 27 negara anggota Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro) dari 2,1 persen menjadi 1,6 persen.
Tidak heran jika Uni Eropa menyerukan agar ada perbaikan di sektor keuangan, termasuk peningkatan transparansi pada aktivitas lembaga keuangan. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyerukan agar sektor keuangan diatur lebih ketat.
AS mencoba mengatasi krisis dengan menurunkan suku bunga dan stimulus ekonomi 150 miliar dollar AS. ”Namun, masalahnya, kebijakan moneter tidak selalu efektif,” kata Johnson. (REUTERS/AP/AFP/MON)