BI Belum Berencana Ubah Kebijakan Moneter
Suara-Karya, 31 Januari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Bank Indonesia (BI) belum berencana mengubah kebijakan moneternya, meskipun bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan menurunkan kembali suku bunganya (Fed Fund Rate).
“Kebijakan tidak akan berubah. Kita akan selalu menargetkan inflasi sebagaimana yang sudah kita perhitungkan. Kebijakan moneter (BI-Red) akan mengarah kepada pencapaian inflasi,” ujar Deputi Gubernur BI Budi Mulya, di Jakarta, kemarin.
Selain itu, dia menambahkan, BI senantiasa selalu berupaya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, jika memang pasar terpengaruh dengan keputusan yang diambil The Fed.
“Tentu kita akan menjaga (nilai tukar rupiah-Red) di pasar valas, karena impact nantinya akan terasa di (nilai-Red) rupiah,” katanya.
Terlebih lagi, menurut Budi Mulya dia tetap optimis kondisi stabilitas pasar keuangan akan selalu terjaga. Seperti yang terlihat pada perdagangan Rabu (30/1), nilai tukar rupiah di pasar spot antar-bank Jakarta ditutup menguat 30 poin menjadi Rp 9.292 per dolar AS dari penutupan Selasa (29/1) di level 9.322 per dolar AS.
Sementara itu, kurs rupiah terhadap sejumlah mata uang asing lainnya pada Rabu (30/11) juga mengalami penguatan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura menguat ke posisi Rp 6.549,75 per dolar Singapura, dari Rp 6.571,62 per dolar Singapura. Terhadap dolar Hong Kong ke posisi Rp 1.190,98 per dolar Hong Kong dari Rp 1.194,530 per dolar Hong Kong. Kurs rupiah atas dolar Australia menguat ke Rp 8.242,91 per dolar Australia dari Rp 8.289,56 per dolar Australia, dan terhadap euro menguat ke Rp 13.743,85 dari Rp 13.768,25.
Sedangkan kurs dolar AS terhadap beberapa mata uang asing lainnya di pasar global bervariasi. Hal itu karena investor masih menunggu seberapa besar dampak pemangkasan suku bunga The Fed pada Kamis ini (31/1) dalam menangkal ancaman resesi.
Budi Mulya menilai, masih terdapat ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunganya (BI Rate). Namun, hal itu masih harus dilihat pada keputusan rapat dewan gubernur (BI) setiap bulannya.
Sementara itu, analis pasar uang Edwin Sinaga menilai, peluang BI untuk menurunkan suku bunga masih cukup besar. Namun, penurunan tersebut harus melihat juga bagaimana kondisi inflasi di Januari ini. (Tri Handayani)