Hambatan ekspor dipangkas
Bisnis-Indonesia, 14 Februari 2008
JAKARTA: Pemerintah mempertahankan target ekspor tahun ini sebesar 14,5% dengan memacu peningkatan volume ekspor melalui pemangkasan hambatan-hambatan ekspor dan percepatan pembangunan infrastruktur.
Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wapres Jusuf Kalla dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam jumpa pers seusai Rapat Kordinasi Terbatas (Rakortas) di Gedung Departemen Perdagangan, kemarin.
Hadir dalam Rakortas kemarin, para Menteri Kabinet Bersatu a.l Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri KUKM Suryadharma Ali dan Menteri Kehutanan M.S Ka’ban.
Dalam rapat tersebut disepakati untuk lebih memperkuat pertumbuhan ekspor 10 produk potensial komoditas makanan olahan, perhiasan, ikan dan produk ikan, kerajinan dan rempah-rempah.
Tahun ini, pemerintah menargetkan ekspor 10 komoditas ini naik 24,7% dari US$5 miliar di 2007 menjadi US$6,2 miliar di 2008.
“Kontribusi ekspor kita tetap tinggi pada 2007. Ekspor kita (nonmigas) tumbuh 15,05%, sedangkan migas 4%. Tugas pemerintah adalah bagaimana mempertahankan konstribusi itu [ekspor],” kata Kepala Negara.
Namun, lanjut Presiden, mengingat ekonomi kurang bersahabat sehingga berpengaruh terhadap peluang ekspor Indonesia, pemerintah menempuh langkah-langkah yang proaktif, kooperatif dan adaptif agar realisasi ekspor tahun ini tetap sama.
Kepala Negara menegaskan dalam upaya memangkas hambatan ekspor, pemerintah antara lain terus melakukan sinkronisasi kebijakan agar barang yang akan diekspor menjadi kompetitif serta meningkatkan pembangunan infrastruktur agar bisa mengangkat volume ekspor Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai ekspor Indonesia selama Januari-Desember 2007 mencapai US$113,99 miliar, tumbuh 13,05% jika dibandingkan dengan periode yang sama 2006 sebesar US$100,69 miliar.
Ekspor nonmigas masih mendominasi ekspor Indonesia dengan menyumbang US$91,94 miliar. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$975,3 juta.
Pasar Asia
Mendag Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah menargetkan pasar Asia seperti China, Korea Selatan dan India yang masih mengalami pertumbuhan kendati belum bisa diprediksi dampak dari resesi Amerika Serikat terhadap negara-negara tersebut.
Menyinggung soal percepatan arus ekspor, dia menyebutkan untuk jangka menengah pemerintah memperbaiki infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan listrik yang nantinya bisa dinikmati hasilnya dua atau tiga tahun ke depan.
Untuk jangka pendek, pemerintah memperbaiki manajemen lalu lintas pelabuhan dan melakukan perbaikan jalan. Pemerintah juga melanjutkan program perbaikan iklim usaha dan pengamanan pasar.
Di tempat terpisah, Sekjen Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan target ekspor pemerintah tersebut bakal sulit tercapai apabila tidak dibarengi peningkatan volume ekspor.
Dia memperkirakan ekspor tahun ini bakal melambat dan lebih rendah dari target pemerintah yakni hanya 12%. “Pemerintah harus memprioritaskan pengembangan infrastruktur guna mempercepat arus barang masuk dan keluar pelabuhan,” katanya. (10) (redaksi@ bisnis.co.id)