Infrastruktur dan Ekonomi Biaya Tinggi Masih Jadi Hambatan Ekspor
Media-Indonesia, 14 Februari 2008
JAKARTA–MI: Presiden menargetkan untuk mempertahankan angka pertumbuhan ekspor seperti pencapaian tahun lalu yakni 15,5%. Sikap ini diambil mengingat melemahnya ekonomi global, masih rendahnya daya dukung infrastruktur, dan masih adanya ekonomi biaya tinggi.
“Kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dan perkembangannya baik. Tahun 2007 ekspor nonmigas 15,5% dan migas 4% dari segi komponen growth setara 47,7% maka pemerintah bertugas mempertahankan kontribusi itu,” ungkap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seusai rapat kerja di kantor Departemen Perdagangan Jakarta, Rabu (13/2).
Presiden mengakui, kinerja ekspor masih bergantung pada kenaikan harga komoditas. Namun, tahun ini kenaikan tersebut belum tentu akan bertahan. Di samping itu, kondisi ekonomi global yang cenderung melambat juga akan memengaruhi kinerja pertumbuhan ekspor.
Selain persoalan global, Presiden pun mengakui hambatan dari rendahnya daya dukung infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan. Akan tetapi, perbaikan untuk soal ini membutuhkan waktu yang lama. Persoalan domestik yang juga dirasa menghambat peningkatan ekspor ialah rendahnya investasi dan masih adanya ekonomi biaya tinggi.
“Kita bertekad efisienkan prosedur ekonomi di pusat dan daerah agar kita tidak merugi di negeri sendiri akibat biaya ekonomi yang begitu tinggi,” katanya.
Lebih jauh, Presiden juga menyatakan pemerintah akan menyeimbangkan kebijakan moneter dan fiskal agar bisa mendukung ekspor. Salah satunya dengan menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah. Upaya mencari pasar juga dilakukan dengan diplomasi seperti di ASEAN. Selain itu, berbagai kegiatan promosi termasuk menyelenggarakan even-even internasional untuk memperkenalkan produk Indonesia.
Hal ini dibenarkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menurutnya, pemerintah akan mengupayakan pengembangan pasar baru agar tidak ada ketergantungan pada pasar tradisional yang saat ini terancam resesi. Khususnya pasar yang tidak berisiko seperti Eropa Timur dan Timur Tengah. Sedangkan, untuk persoalan domestik khususnya biaya tinggi ialah percepatan pembangunan infrastruktur dalam jangka menengah dan jangka pendek seperti pengaturan lalu lintas jalan dan lainnya.
“Solusinya jangka menengah tentunya infrastruktur kan sudah ada program akselerasi pembangkitan listrik, jalan tol dan pelabuhan itu semua sudah ada. Intinya umumnya 1-2 tahun ke depan akan diselesaikan, jadi untuk jangka pendek kita membahas bagaimana kita memperbaiki manajemen traffic dan melakukan perbaikan-perbaikan jalan dimanapun diperbaiki harus diperbaiki cepat,” jelasnya.
Meski begitu, persoalan melemahnya ekonomi global dan resesi yang menimpa AS, Mari mengaku pemerintah masih belum memutuskan besaran target pertumbuhan ekspor. (Toh/OL-03)