BI waspadai tekanan inflasi eksternal
oleh : Hendri T. Asworo
JAKARTA (Bisnis.com): Bank Indonesia mewaspadai kemungkinan tekanan inflasi dari faktor eksternal mengingat pada Juli masih tinggi, padahal dampak kenaikan harga BBM seharusnya berakhir dua bulan lalu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mengatakan seharusnya setelah dua bulan kenaikan harga BBM mestinya ada pembalikan gejolak inflasi, tetapi yang terjadi adalah angka inflasi masih tinggi.
“Kami akan pantau dari bulan ke bulan dan minggu ke minggu, tapi intinya kami melihat sekarang pembalikannya belum datang. Mestinya harus membalik pada bulan kedua setelah kenaikan harga BBM, tapi nampaknya masih ada faktor eksternal yang masih harus kita waspadai,” ujarnya di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, masih tingginya inflasi pada Juli karena pengaruh di luar kenaikan harga BBM. Namun, lanjutnya, jaminan kelancaran arus barang yang mempengaruhi pasok harus tetap diperhatikan.
“Tampaknya ada faktor lain di luar BBM, tapi intinya kelancaran arus barang itu sangat penting,” ujarnya.
Kedua, kata dia, yang harus diwaspadai adalah dari sisi moneter agar dampak inflasi tidak berkepanjangan, tetapi Boediono tidak menyebutkan kebijakan apa yang harus ditempuh.
“Dari segi moneter kita harus waspada supaya dampaknya tidak berkepanjangan,” jelasnya.
Dia berkeyakinan pada 2009 Bank Indonesia dapat menarik inflasi pada angka single digit, meskipun inflasi Januari – Juli sudah 8,85%. “Kami masih sangat-sangat yakin ini bisa kami tarik ke bawah pada 2009 ke single digit. Kami akan pakai alat-alat kami semuanya.”
Boediono memprediksikan pada bulan-bulan mendatang akan ada pembalikan ekspektasi inflasi. “Untuk bulan ini memang belum kelihatan, untuk ke depan saya rasa bisa kita lihat lagi,” tambahnya. (er)